Sabtu, 13 Februari 2010

Menciptakan Anak Pintar Sejak Dalam Kandungan

Adalah hal yang sangat naif, ketika seorang anak menjadi bodoh, nakal, pemberang, atau  bermasalah, lalu  orang  tua  menyalahkan  guru,  pergaulan  di  sekolah,  dan lingkungan  yang  tidak  beres.  Tiga  faktor  itu  hanya  berperan  dalam  proses perkembangan anak, sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh, nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana orang tua memberikan awal kehidupan si anak tersebut. 

Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih  dalam  kandungan.  Malah,  sejak  masih  janin,  orang  tua  dapat  melihat perkembangan  kecerdasan  anaknya.  Untuk  bisa  seperti  itu,  orang  tua  harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi.

Bicara  tentang kecerdasan, tentu  saja tidak  bisa  lepas  dari  masalah  kualitas  otak, sedangkan  kualitas  otak  itu  dipengaruhi  oleh  sejumlah  faktor.  Secara  prinsip, perkembangan  positif  kecerdasan  sejak  dalam  kandungan  itu  bisa  terjadi  dengan memperhatikan  banyak  hal.  Pertama,  kebutuhan-kebutuhan  biologis (fisik)  berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik.

Selain  itu,  seorang  ibu  hamil  tidak  menderita  penyakit  yang  akan  mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.

Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya--boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anakanak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya," kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. "Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan  kehamilannya  itu.  Kondisi  seperti  ini  tidak  kondusif  untuk  merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya," tambahnya.

Selain itu,  menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.

Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support  dari  orang  tua  dan  keluarga,  sehingga  seorang  ibu  dapat  menerima kehamilannya dengan hati tenteram,"

Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang,  dalam  darahnya  akan  melepaskan  neo  transmitter  zat-zat  rasa  senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.

Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi".

Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.

Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang  ibu  hamil  harus  tetap  menjaga nutrisi  yang  didapat  dari  makanan  sehari-hari.  Bahkan,  perlu  diimunisasi,  misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mulamula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu  dua minggu sekali,  dan  bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.

Juga disarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan  semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.

Sementara itu,  psikolog  anak  lainnya  juga  mengungkapkan  pendapat  yang  sama. Stimulasi positif,  menurutnya,  memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi  cerdas,  melainkan  dapat  bersosialisasi  dengan  lingkungannya.  "Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.

Bahkan, bayi  masih  dalam  kandungan  bisa  distimuli  dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap  dan  berusaha mengajarkan  cara anaknya  bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim.

Tapi,  mengapa musik klasik?  Pendapat  semacam ini  memang terus  menjadi  topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang 'merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.  Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan  Psikologi lainnya:

Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.

"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya," ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras  kepada  bayi  dalam  kandungan.  Konon,  justru  menyebabkan  timbulnya kebingungan pada si jabang bayi!

Adalah sangat baik pula jika anda adalah seorang Muslim untuk senantiasa membaca Al-Qur'an atau hanya sekedar mendengarkan murottal saat anda hamil. hal ini selain mendapatkan pahala kebaikan anak dalam kandungan anda akan sangat familiar dengan ayat-ayat suci, sehingga ketika lahir nanti ada kemungkinan anak anda mudah belajar al-Qur'an bahkan menghapalkannya.

Mulailah perubahan kearah yang lebih baik sejak dini agar hidup kita terus berubah kearah kebaikan dimasa yang akan datang ..!

Tidak ada komentar: